Puisi1 dilihat

Perjalanan

Sedang membaca: PerjalananDiperbarui 22 Juni 2026

Dalam luangku,

Ketika daya merasuki raga yang terkekang oleh lelah;

saat semestinya teduh menghapuskan peluh.

Aku memilih pergi,

meski keluh dan penat terikat pada langkahku yang kian berat.

Tetapi, bila gemuruh ronta meruntuhkan asa,

hingga laju pun terhenti jua,

maka engganlah ku menanti pelita

Di tengah riuhnya gerak;

terdesak aku oleh sesak.

Entah mengapa, yang seharusnya benderang menjelma suram.

Ternyata, hatiku masihlah sempit manakala dihimpit perubahan yang sedikit.

Namun, jika kupandang rupa-rupa penuntut ilmu yang bertumbuh itu,

segeralah ku terhenyak,

lalu beranjak menelusuri padang nan lapang membentang.

Detik demi detik menitik menjadi rintik,

laksana butir yang bergulir melintasi celah jam pasir;

begitulah waktu mengalir membawaku ke pesisir.

Terlihat jejak tempatku berpijak tak terenyahkan oleh ombak.

Sebagaimana tangguhnya aku melewatil sukar, tatkala menyibak yang tersirat atas segala yang tersurat.

Sampai akhirnya, kudapati makna berpuas diri.

Berpuluh kepak mulai nampak menghiasi cakrawala jingga;

kemudian berangsur pulang digembala rayuan petang.

Tak sabar mereka menikmati lezatnya perjamuan.

Seketika itu bintang-bintang terbit menerangi langit,

menemani sang rembulan menuntun malam menuju fajar.

Mengagumkan...

Persinggahan ini sejenak mengalihkan pertanyaan dunia;

sekilas menghanyutkanku pada pesona perjalanan.

Dalam masa yang sesingkat itu kusadari,

bahwa mentari tak mengingkari janji.

Mungkin Kamu Suka