Puisi2 dilihat
Prolog Sebuah Terang
Sedang membaca: Prolog Sebuah TerangDiperbarui 22 Juni 2026
pukul 3 pagi
ku tatap atap kamar bagai langit malam
ingatan serupa kaset usang,
tiba-tiba dimainkan tanpa tuan
ah mau jadi apa aku?
langkahku sudah sangat jauh
jalan kecil itu sudah menjadi buntu
terseok-seok
kaki menapak
aku diam terpaku.
sebanyak apa
tubuhku berdarah,
ada satu jiwa,
menunggu diujung sana,
cahaya kecil penuh kasih,
yang kujaga setengah mati
bersabarlah,
sebentar lagi,
tunggu aku,
sedetik
dari sekarang.
kelak saat aku fana,
biar terang itu,
tetap hidup
mendunia.
Mungkin Kamu Suka

Ruang Sederhana
Dewi Muawanah1 Menit Baca1 dilihat

Setumpuk Buku
Tia Novita Anggraeni1 Menit Baca7 dilihat

"Sudut Ruang Inspirasi"
Choirul Anam1 Menit Baca15 dilihat

Sepasang Mata Bening
ENDANG SRI MARTINI ARDHAENU1 Menit Baca1 dilihat

Di Ruangan Ini
Anik Nurlatifah1 Menit Baca2 dilihat

sekotak krayonku
Nunik Eka Jayanti1 Menit Baca2 dilihat

Kusematkan Elegi untuk Loli
DYNA PARASTININGSIH,S.S.2 Menit Baca3 dilihat

Kusematkan Elegi untuk Loli
DYNA PARASTININGSIH,S.S.2 Menit Baca1 dilihat

KELASKU SEMANGATKU
Pitaloka Wibawani Puspa1 Menit Baca1 dilihat

Altar Emas dalam Rumah Kedua
Annur Fitriana2 Menit Baca4 dilihat