Aroma Sumbu yang Menyala
Di sudut ruang kelas 7 SMP Negeri 17 Surabaya, kipas angin dinding berputar dengan derit malas, gagal mengusir hawa pekat yang mengalir dari kawasan industri Rungkut. Bagi Bayu, udara siang itu tidak hanya panas oleh termometer, tetapi mendidih oleh kecemasan. Di atas mejanya tergelatak selembar kertas polio kosong. Bu Rahma, guru Bahasa Indonesia berwajah teduh itu, baru saja meminta seisi kelas menulis sebuah puisi bebas. Di sekitar Bayu, riuh kelasnya bergerak organik beberapa anak tertawa pamer bolpoin mekanik mahal, sementara yang lain sibuk memadukan rima tentang keindahan pantai yang belum pernah mereka kunjungi.
Bayu menatap jemarinya yang masih menyisakan noda hitam minyak jelantah. Ingatannya terseret pulang ke rumah petak di bantaran sungai, tempat domestiknya hancur berantakan semalam. Ayahnya, seorang buruh pabrik yang baru saja terkena rasionalisasi efisiensi industri sebuah produk kejam dari ekonomi urban melampiaskan frustrasinya dengan membanting rak piring. Ibunya menangis di balik tirai lusuh, meratapi modal jualan gorengan yang habis untuk membayar tunggakan listrik. Konflik itu merembes, mendistorsi ketenangan jiwa seorang anak berumur tiga belas tahun yang seharusnya hanya berpikir tentang rumus matematika.
Ketika bel istirahat berbunyi, ruang kelas kosong. Bayu memilih bertahan. Goresan pertama penanya akhirnya lahir, bukan berupa bait-bait romantis bermahkota bunga, melainkan bait yang berdarah. Ia menulis tentang kepulan asap pabrik yang mencekik langit Surabaya, tentang wajan hitam ibunya yang menampung air mata, dan tentang ayahnya yang berubah menjadi raksasa murka karena ditumbangkan oleh mesin-mesin korporasi. Puisi itu adalah potret yang retak sebuah garis patah-patah yang menghubungkan kemiskinan di rumah dengan kesunyian bangku sekolah.
Puncak konflik psikologisnya meledak saat Bu Rahma kembali ke kelas dan meminta Bayu membacakan karyanya di depan kelas. Beberapa anak di barisan belakang berbisik, menyunggingkan senyum remeh melihat seragam Bayu yang agak menguning di bagian kerah. Bayu berdiri, dadanya bergemuruh.
Sungguh sebuah kehormatan yang luar biasa, pikirnya dengan sarkasme yang mendadak meluap di kepala. Kelas ini adalah panggung sandiwara terbaik, tempat anak-anak dari perumahan elite Rungkut Asri berpura-pura peduli pada estetika literasi, sementara mereka menganggap bau keringat anak pinggiran seperti dirinya sebagai polusi udara. Betapa puitisnya dunia ini, saat kemiskinan struktural dikurasi dan dinilai dengan angka sembilan puluh di atas kertas raport oleh sistem pendidikan yang agung.
Namun, saat bait terakhir selesai ia rapalkan dengan suara bergetar “Di bawah langit Surabaya yang berkarat, kami melipat mimpi di dalam dompet ayah yang sekarat” keheningan mencekam ruangan. Tidak ada tawa. Teman sebangkunya yang tadi sibuk bermain gawai kini menunduk. Bu Rahma tidak memberikan angka. Beliau berjalan mendekat, lalu mendekap pundak Bayu yang gemetar. Air mata guru itu jatuh tepat di atas kertas polio Bayu. Ruang kelas itu tiba-tiba bertransformasi dari sekadar kotak beton pengap menjadi rahim tempat sebuah karya sastra yang jujur dilahirkan. Dari ruang kelas SMP Negeri 17 inilah, dari robeknya jaring-jaring ekologi hidupnya, Bayu menyadari bahwa penanya adalah sumbu yang siap menyalakan api perlawanan terhadap takdir.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah

RETINA
