Homevisit
Bagiku, tidak ada kegiatan lain yang melelahkan sebagai guru, selain homevisit. Ya, karena saat aku harus homevisit, berarti ada yang salah dengan caraku mendidik murid. Namanya Anjar, laki-laki remaja bertubuh kecil, larinya gesit, pucuk depan rambutnya merah, bajunya lusuh, dan yang paling menghebohkan adalah ketika placement test-tes sederhana untuk memetakan kemampuan murid di awal pembelajaran- ia sudah mengisi agama yang tidak sesuai dengan yang dianutnya. Masih melekat kuat di ingatanku, ketika aku menerima daftar nama siapa saja yang menjadi anak kelasku, aku sudah mendapat pesan dari atasan bahwa murid kelasku ada yang beragama Hindu. Agama yang sangat minoritas di kota ini dan perlu mendapat pembelajaran sesuai agamanya. Sambil ku ingat-ingat nama wali murid apakah ada yang berinisial agama Hindu. Yaa, memang ada. Ada wali murid bernama depan Ketut. Baiklah, Anjar sudah menjadi perhatianku berbekal laporan dari atasan dan inisial nama wali murid, tapi nama di presensi sungguh tidak ada aroma Hindu sama sekali.
Tibalah saat aku harus menyapa murid kelasku untuk kali pertama. Aku berkenalan dengan mereka dengan cara memanggil mereka satu per satu. Sampailah pada Anjar, aku kaget. Tidak ada setitik pun aroma Hindu di wajahnya, yang aku perhatikan adalah wajahnya murni darah Madura. Sepengetahuanku, tidak ada turunan Madura yang beragama Hindu. Atau biarpun orang Madura yang merantau ke Bali, aku yakin mereka sangat memegang teguh agamanya.
“Mohon maaf ya, kamu agamanya apa?”, tanyaku pada Anjar demi menjawab asumsiku sendiri.
Dia diam. Barangkali dia yang tidak mendengar aku berbicara. Aku mendekat.
“Kamu agama apa,Nak? Muslim?”, pertanyaanku ku ulang. Kali ini tepat di depan wajahnya.
Dia masih diam.
“Agamamu apa? Islam?”, pertanyaan ku ulang 3x lebih singkat, padat, berharap dia menjawab dengan tepat.
Dia mengangguk berarti mengiyakan pertanyaanku.
Aku semakin khawatir karena dia tidak menjawab pertanyaanku hanya mengangguk saja.
“Namamu siapa?”, berharap dia menjawab dengan lantang.
“Anjar, Bu”, syukurlah, dia bisa berbicara.
***
Satu bulan pembelajaran sudah mulai efektif. Masalah mulai muncul. Anjar sudah mengeluarkan bakatnya untuk sering tidak masuk sekolah, sudah menjadi perhatian guru. Tidak terlihat menonjol di kelas, bahkan ada beberapa guru yang melaporkan bahwa dia tidak bisa calistung. Laporan ku terima dengan tangan terbuka sambil mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan perhatian lebih untuk Anjar.
Penulis
Karya Lain Dari Eka aprilia Sulistyarini
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Tinta Bak

Toilet Sekolah

RETINA

Sisi Lain Sang Pengacau

