Toilet Sekolah
Rasa ini sudah tidak bisa aku tahan lagi. Aku bisa merasakan air di dalam tubuhku ini semakin mendesakku untuk keluar. Tanpa berpikir panjang aku segera lari ke toilet dan membuat Fara jatuh tersenggol olehku. “Aduhhhh, Theo … sakit,” teriaknya. Aku tidak peduli.
Pintu toilet tertutup. Aku keluarkan tendanganku “Brakkkkkkkkkk …” Pintuku tutup kembali dengan keras, kubuka celanaku, lalu keluarlah air itu. Ada rasa lega yang menjalar dari tubuhku. Satu siraman cukup menurutku, aku pakai lagi celanaku, lalu keluar.
“Cahaya apa itu, di mana aku, bukankah aku di toilet sekolah, perasaan tidak ada cahaya itu tadi,” banyak pertanyaan yang berlarian di kepalaku, takut, heran, dan bingung. Hawa dingin menyelimuti tubuhku, bau pesing yang sangat menyengat membuatku ingin muntah.
Tiba-tiba terdengar suara keras dengan nada marah, “Berhenti…!!!!” Suara siapakah itu. “Siapa kamu?” jawabku dengan gemetar. Bulu kuduku berdiri, tak ada jawaban. Tepat di depanku wajah yang sangat jelek dan berbau menatapku dengan penuh kemarahan,
“Kamu takut, hahhahaha … hahhahaha …, dasar anak nakal dan jorok!” umpatnya. “Kenapa hidungmu kau tutupi, bau yaaaa, … ingin muntahhhh?” ejeknya dengan sinis..
“Di mana aku?” kataku lirih.
“Kamu telah mengganggu waktu tidurku, kamu juga membuat tempatku semakin pesing. Lihatlah pintu ini, rusak karena kau tendang dan banting,” menunjuk pada pintu kamar mandi yang aku tendang tadi.
Tubuhku banjir keringat. Bau ini semakin menyiksaku. Aku yakin di depanku adalah jin penunggu di sekolah ini yang sering diceritakan Bu Sekar selama ini, “Di sekitar kita ada makhluk ciptaan Tuhan yang harus kita hormati, meskipun dia tidak terlihat oleh mata.”
“Kamu takut, kamu ingin kembali ke alammu? itu tidak Mungkin anak nakal dan Jorok, hahhahha … hahahhha… kamu akan menjadi pengikutku.”
“Maaaaaf, maaaafkan aku, kembalikan aku ke duniaku, maaaaf afffff!,” akhirnya kataku keluar.
“Maafpun tak cukup untukmu. Kamu harus bertanggung jawab dan berjanji tidakkan mengulanginya lagi, lalu sampaikan kepada seluruh temanmu bahwa di dunia ini selain manusia ada makhluk Tuhan lain yang tak terlihat dan harus kalian hormati. Contohnya aku, aku adalah jin yang menjaga toilet sekolah ini. Kau dan teman-temanmu selama ini sudah mengusik duniaku. Aku selalu diam dan memakluminya bahwa kalian masih anak-anak, tetapi tidak untuk sekarang!”
“Aku janji akan memperbaiki pintu ini dan tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan mengajak teman-temanku untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah ini, terutama toilet sekolah. Aku mohon kembalikan aku. Jika aku melanggar, aku siap mendapat hukuman dari kamu lagi,” pintaku dengan nada yang bergetar.
“Baiklah, aku akan mengembalikan kamu ke duniamu, tetapi aku akan mengawasimu dan terus menagih janjimu. Jika kamu mengulanginya lagi, bersiaplah kau akan menjadi temanku di sini, hahhhhaha … hahhaha.”
Tubuhku semakin ringan, aku benar-benar tidak kuat dengan hawa dingin dan bau pesing ini, tiba-tiba “Brakkkkkkkk …,”
“Theo …. Theo …, bangun … bangun!!”
Suara Bu Sekar. Aku mencoba membuka mata. Aku melihat sekeliling, aku di UKS, ada Bu Sekar, ada Pak Beni, dan ada beberapa teman lain. Aku juga merasakan celanaku basah. Aku mengompol? Tidak mungkin, aku sudah kencing di toilet tadi.
“Theo, kamu harus hati-hati masuk ke toilet, apalagi kamu sudah membuat pintu toilet menjadi rusak karena kamu tendang. Akhirnya kamu terpeleset dan jatuh pinsan. Kamu harus bertanggung jawab ya Theo!” kata Bu Sekar menjelaskan.
“Orang tuamu sudah dipanggil, sebentar lagi datang,” lanjut Pak Beni.
“Bu, Pak, maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi dan saya akan mengajak semua teman-teman untuk menjaga toilet sekolah agar tetap bersih dan tidak merusaknya lagi,”kataku.
“Kami pegang janjimu, nanti kamu bisa membuat surat pernyataan di BK, sekarang istirahatlah sampai orang tuamu datang,” kata Pak Beni dengan tegas. Pak Beni mengajak Bu Sekar dan temanku meninggalakan aku sendiri di UKS. Aku bisa melihat di sudut UKS Jin toilet masih melihatku dengan wajah yang sinis menunggu janjiku untuk bertanggung jawab.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

RETINA
