Cerpen2 dilihat

Ibu, Ayah Surgaku

Sedang membaca: Ibu, Ayah SurgakuDiperbarui 22 Juni 2026

Ruang kelas terlihat hening dari suara-suara sahut-sahutan anak-anak. Sekilas hanya terbisik suara gesekan sepatu-sepatu dilantai. Dari pojok kelas, terdengar pula  ketukan-ketukan pulpen lirih yang saat itu diketuk-ketukkan di atas meja. Entah, itu pertanda penghuni ruang kelas sedang berpikir, melamun, berkhayal, jenuh, atau kebingungan memikirkan ide-ide jenius untuk menyelesaikan tugas dari saya guru Bahasa Indonesia.

Sekilas mata ini memandang pada bangku meja paling depan, tepat di sebelahnya pintu masuk kelas. Ada anak sedang serius dalam mengerjakan tugas dari saya. Mukanya sembab, kemerah-merahan. Cucuran keringat-keringat menyusuri kulit wajahnya, hingga tetesanya mampu membasahi Sebagian buku yang ada dihadapannya. Sesekali dia memegang kepalanya, seakan kepalanya mau jatuh tak tahan membawa beban yang berat yang dipikulnya. Ananta memang tidak banyak mengucap bait kata-kata, dia pendiam, tapi banyak prestasi yang ia raih di sekolah. Nanta, nama sapaan bagi teman-teman yang memangilnya.

Nanta, memiliki segudang prestasi nonakademik yang ia dapatkan dari lomba pencak silat. Sebaliknya, prestasi akademik yang dimiliki tidak sebanding dengan prestasi nonakademik. Dalam hati kecil, dia ingin menjadi juara kelas bidang akademik, tapi itu hanya impiannya yang tersimpan di langit-langit biru.      

Dari arah tengah belakang deretan bangku meja murid, ada yang berjalan menuju menghampiri saya yang sedang duduk sambil membaca serta merekap nilai. Ridho yang menjadi ketua kelas VIII C, perlahan-lahan menghampiri saya untuk mengumpulkan tugas terlebih dahulu. Senyuman Ridho membuat saya yakin bahwa Dia telah menyelesaikan dengan baik dan hasil karya sendiri.

Melihat temannya yang telah mengumpulkan tugas menulis puisi, hati Nanta semakin tak karuan. Denyut jantungnya bergetar kencang. Dag dig dug, lirih suara denyutan yang ada di dada Nanta terdengar. Dia bingung takut tidak mampu menyelesaikan puisi. Keringat yang bercucuran dari rambut kepala pun membasahi pipi tanpa sisa.

Perlahan, satu-persatu anak kelas VIII C mengumpulkan tugas kepada saya. Kelas pun tidak lagi hening. Banyak anak yang sibuk dengan tugasnya dan sesegera mungkin untuk mengumpulkannya kepada saya. Hampir 80% anak yang sudah mengumpulkan.  Saya tersenyum tipis melihat hasil tugas puisi anak-anak. Karena ada yang keempat anak mirip persis tugasnya, itu pertanda dia bekerjasama atau bisa jadi saling contekan dengan temannya. Ada juga yang puisinya bagus bahasa, ejaan, dan diksinya, dalam benak saya mungkin ini copy paste dari karya orang lain.  Persaaan saya bercampur aduk Ketika melihat hasil karya puisi anak anak, terkadang berperasangka baik dan terkadang berperasangka buruk dengan anak anak. Dikarenakan dalam hati kecil saya seorang guru, apakah ini sungguh hasil karya anak-anak sendiri?

Seketika saya lupakan prasangka-prasangka itu. Saya hitung lembaran kertas hasil tugas anak anak dengan pelan-pelan. Tenyata lembar kertas ada yang kurang. Saya hitung kurang satu anak yang belum mengumpulkan.

Saya memandangi dari segala sudut ruang kelas  VIII C. Dari mulai deretan sebelah kanan depan hingga belakang. Lalu deretan bangku tengah depan hingga belakang. Kemudian deretan sebelah kiri, paling depan, dekat dengan pintu kelas, tatapan mata ini tertuju pada anak yang sedang duduk di bangku sambil memegang kepalanya. Tepat sekali, dia anak yang selalu berprestasi bidang karate.

Saya beranjak dari meja tempat duduk guru. Langkah demi langkah, saya hampiri Nanta di bangku favoritnya, di bangku depan dekat pintu. Dengan tegapnya, saya melangkahkan kaki menuju Nanta. Dia bingung dihampiri Saya. Wajahnya merah, diselimuti keringat dingin yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Kerutan kening pun terlihat jelas pada wajah Nanta. Dia bingung karena tugas menulis puisinya belum selesai. Hanya empat baris puisi yang diselesaikan dalam kertas tugasnya.

Tepat posisi saya berada di depanya. Nanta semakin bingung dan deg-degan melihat saya. Saya bertanya kepada Nanta dengan wajah tersenyum yang menurut saya senyuman terbaik. Padahal dalam hati saya kecewa dan kesal karena tugas tidak diselesaikan dengan baik.

“Nanta, tugas menulis puisi kamu belum selesai, Nak” tanya saya dengan tersenyum.

 Tubuh Nanta bergetar sambil menundukkan kepala dan berkata, “Maaf, maaf, Pak Ali, saya belum selesai puisinya. saya bingung, tidak ide dipikiran saya”.

“Mengapa belum selesai, teman-teman kamu yang lain sudah selesai semua, kok, kamu belum?” tanya saya dengan nada yang agak keras.

Nanta kemudian sontak berdiri dari tempat duduknya dan memandangi saya dengan wajah sedih namun tegas. “Sekali lagi, mohon maaf Pak Ali, saya belum selesai itu bukan berarti saya tidak bertanggungjawab dengan tugas saya, tapi inilah kemampuan saya. Puisi ini tidak bisa saya lanjutkan karena masih bingung tidak ada ide sama sekali. Maaf ya, Pak”.

“Kan bisa lihat tugas teman-teman kamu, Nanta! tanya saya balik.

Dengan tegasnya nanta menjawab, “Maaf, Pak Ali, saya diajarkan oleh orangtua saya untuk selalu jujur, tanggungjawab, displin, dan apalagi contekan, orangtuaku melarang, Allah selalu melihat kita di manapun kita berada”

Mendengar jawaban Nanta, tertampar wajah saya, malunya melebihi segalanya. Mulut ini tak lagi mau berucap, seakan tekunci. Bola mata seolah tidak bisa digerakkan. Sangat tersentuh sekali hati ini, mendengar perkataan Nanta. Saya diam sejenak, sambil memandang wajah Ananta diselimuti kebaikan. Dalam hati, jarang sekali anak seumuran dia, berbicara dan berpikiran seperti itu.

“Coba saya lihat puisi, kamu.”

Ternyata puisi yang dia buat belum selesai hanya empat baris. Ini puisinya,

 

Ibu, Ayah Surgaku

Ibu tauladanku ….

Ibu penerangku

Ibu surgaku ….

Ayah tuntunlah aku menuju surga ….

 

Tidak lama kemudian, saya mengusap rambutnya, dengan mata yang berkaca-kaca terlontar mengucapkan, “Nanta, selalu jadi anak sholih, ya, yang membanggakan orangtua, sukses buat kamu”. Terbesit dalam hati saya, memang orang tua merupakan pendidikan pertama yang sesungguhnya bagi anak. 

 

 

Mungkin Kamu Suka