Cerpen8 dilihat

Di Balik Seragam Biru Putih

Sedang membaca: Di Balik Seragam Biru PutihDiperbarui 22 Juni 2026

Hai kenalin namaku Shayvi Putri Ahmya, kalian bisa panggil aku Shay. Aku baru lulus Sekolah Dasar dan sekarang aku sekolah di SMP Swasta Al - Islamiyah. Hari ini adalah hari Senin yang sekaligus menjadi hari pertama aku menginjakkan kakiku di bangku SMP. Sungguh excited bagi aku, karena yang biasanya aku pakai seragam merah putih sekarang aku pakai baju biru putih yang berarti aku sudah naik tingkat dan akan memasuki gerbang remaja. “Hhhmmm gimana ya rasanya jadi remaja?? ah, tidak usah dipikirin, kita nikmatin aja!” pikirku sambil melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah.

     “Shaaaaay…!” terdengar teriakan dari jauh menuju ke arahku. Aku tengokkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk mencari dari mana asal suara itu, dan ternyata dia adalah Rizda temanku saat Sekolah Dasar.

     “Ternyata kita satu sekolah ya Riz, aku kira kamu sekolah di SMP negeri loh… kan teman-teman banyak yang sekolah di negeri.” Kataku antara kaget dan bahagia karena ada salah satu teman yang aku kenal di sekolah ini.

“Iya Shay, aku tidak diterima. Maunya sih gitu, tapi nilaiku kurang. Jadi kelempar deh disekolah ini. Hahaha….”. Kita ketawa lepas sambil menuju gerbang sekolah yang ternyata sudah disambut oleh bapak dan ibu guru dengan senyumannya menyambut siswa-siswi baru yang akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. 

     Hari pertama masuk sekolah kami semua di bariskan ke lapangan. Sambil menyesuaikan barisan, mataku mengeksplore bangunan yang ada di depanku mulai dari kanan hingga perlahan aku menengokkan kepala ke kiri sejajar dengan pundakku. Entah berapa banyak yang orang tuaku keluarkan untuk biaya masuk sekolah disini karena aku merasa bangunan di sekolah ini begitu megah dari sekolahku sebelumnya. Gedung bertingkat tiga dengan aksen timur tengahnya itu membuatku kagum.

Aku terus memandangi setiap sudut sekolah hingga tanpa sadar seorang guru memanggil namaku.

“Shayvi Putri Ahmya!”

“Ha? Iya, Bu!” jawabku sambil buru-buru mengangkat tangan.

“Silakan bergabung dengan barisan kelas VII-D.”

“Baik, Bu.”

      Aku segera berlari kecil menuju barisan yang dimaksud. Di sana sudah berdiri puluhan siswa yang sebagian besar tidak kukenal. Berbeda dengan saat SD dulu, hampir semua teman sekelasku adalah orang-orang yang sudah kukenal sejak lama. Kini aku harus memulai semuanya dari awal. Rizda, ternyata dia ada di kelas VII-A. Oh My God!!!!

                                                                = = = = =

     

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah berjalan cukup menyenangkan. Iya cukup, tidak terlalu menyenangkan memang. Namun setelah beberapa hari, rasa senang yang tidak sempurna itu perlahan berubah menjadi perasaan yang sulit untuk kujelaskan.

     Di kelas, aku bertemu dengan berbagai macam karakter teman. Ada yang sangat aktif berbicara, ada yang suka bercanda berlebihan, ada yang pintar dan selalu menjawab pertanyaan guru, bahkan ada yang terlihat cuek dan sulit diajak berkenalan. Hingga aku lebih memilih diam sambil melihat dan mengamati tingkah teman-teman dikelasku. Aku bingung aku harus ngapain dulu.

     Saat istirahat, beberapa kelompok pertemanan tampak sudah terbentuk. Mereka bercanda, berbagi bekal, dan saling bercerita. Sementara aku lebih sering duduk diam sambil memperhatikan dari jauh. Aku berusaha untuk gabung dengan mereka, tapi mereka…

“Boleh gak aku gabung dengan kalian?” ujarku.

“Hhhmmm maaf ya Shay, anggota kelompok kita udah pas.” Jawabnya.

“Oh, ok!” balasku.

"Kenapa ya rasanya berbeda sekali dengan SD?" pikirku.

Di SD, aku mengenal hampir semua orang. Di sini aku merasa seperti orang asing.

      Tidak hanya itu, pelajaran di SMP juga terasa lebih sulit. Guru yang mengajar berbeda-beda, tugas mulai banyak, dan jadwal pelajaran terasa padat. Sepulang sekolah aku sering merasa lelah. Malam itu aku memandangi buku tugas yang menumpuk di meja belajar. Suara tawa teman-teman yang tadi siang menolak ajakanku masih terngiang di kepala. Aku menarik selimut hingga menutupi wajahku dan air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan.Aku tidak mau membuat ayah dan ibuku kecewa karena mereka sudah memilihkan sekolah yang terbaik untukku.

     Hari-hari berikutnya terasa semakin berat. Aku mulai menyadari bahwa setiap teman di kelas memiliki karakter yang sangat berbeda. Ada yang suka bercanda berlebihan hingga membuat suasana kelas gaduh, ada yang sangat percaya diri dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, ada yang berbicara dengan nada keras sehingga terdengar seperti sedang marah, dan ada pula yang membentuk kelompok-kelompok pertemanan sendiri.

     Aku yang terbiasa berada di lingkungan yang tenang mulai kesulitan menyesuaikan diri. Rizda yang kuharapkan selalu bertemu denganku, ternyata dia sudah memiliki teman baru dikelasnya. Sehingga kita sudah jarang lagi untuk bertemu.

     Suatu siang, setelah bel istirahat berbunyi. Bu Fanny guru Bahasa Indonesia memberikan tugas presentasi kelompok. Kami diminta membuat poster dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas minggu depan. Awalnya aku berpikir tugas itu akan berjalan biasa saja. Namun ternyata aku salah. Ketika kelompok kami mulai berdiskusi, suasana menjadi tidak terkendali.

"Aku yang jadi ketua kelompok!" seru salah satu anggota.

"Kenapa harus kamu? Ideku lebih bagus!" sahut yang lain.

"Tugas bagian desain biar Shay saja. Kelihatannya dia pendiam, pasti tidak mau presentasi."

Aku terkejut mendengarnya.

"Tapi... aku sebenarnya ingin mencoba presentasi..." kataku pelan.

"Aduh, kalau kamu presentasi nanti malah bikin nilai kelompok turun," celetuk seseorang sambil tertawa kecil.

     Beberapa teman ikut tertawa. Jantungku berdegup kencang. Aku berusaha tersenyum agar tidak terlihat sedih, tetapi perkataan itu terus terngiang di kepalaku. Sejak saat itu aku semakin menarik diri. Aku hanya mengerjakan bagian yang diberikan tanpa banyak berbicara. Setiap kali guru meminta pendapat di kelas, aku memilih diam.

Puncak masalah terjadi pada hari presentasi.

     Pagi itu langit tampak mendung. Awan kelabu menggantung di atas sekolah seolah mengikuti suasana hatiku. Ketika kelompok kami maju ke depan kelas, salah satu anggota kelompok tiba-tiba tidak masuk sekolah. Akibatnya, pembagian tugas presentasi menjadi berantakan.

"Shay, kamu gantikan bagian yang belum ada yang menjelaskan," kata ketua kelompok.

"Apa? Tapi aku belum siap..." jawabku panik.

"Sudah, tinggal baca saja." serunya.

Tanganku mulai dingin. Telapak tanganku berkeringat. Seluruh kelas terasa berputar ketika aku berdiri di depan.

Saat mulai berbicara, suaraku bergetar. Beberapa kata yang sudah kuhafal tiba-tiba menghilang dari ingatan.

Aku terdiam.

Kelas menjadi hening.

Beberapa siswa mulai berbisik.

"Dia lupa."

"Gugup banget."

"Aduh... pasti dapat nilai jelek ini"

Bisikan-bisikan itu terdengar semakin keras di telingaku.

Dadaku terasa sesak.

     Aku tak kuasa, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Untuk pertama kalinya sejak masuk SMP, aku merasa benar-benar tidak sanggup. Tanpa berkata apa-apa, aku meminta izin kepada guru dan keluar menuju lorong kamar mandi. Sepertinya Bu Fanny menyadari keadaanku, namun beliau tidak bisa meninggalkan kelas karena masih jam pembelajaran. Bu Fanny mengeluarkan gawainya untuk menghubungi Pak Danish, guru BK di sekolah untuk mencari keberadaanku dan memastikan aku baik -baik saja.

Angin siang hari yang berembus melalui jendela tidak mampu menenangkan perasaanku. Aku berdiri sendirian didepan Lorong kamar mandi cewek sambil menahan tangis.

"Aku tidak cocok di sini..."

"Aku ingin kembali ke masa SD..."

"Kenapa semuanya terasa sulit sekali?" tak terasa air mataku akhirnya jatuh.

Saat itulah terdengar langkah kaki mendekat.

"Shay…."

Aku menoleh.

Ternyata Naila dan Alya berdiri di sana. Tak lama kemudian Farel dan Arga ikut menghampiri.

"Kami mencari kamu dari tadi," kata Alya.

"Aku tidak apa-apa kok."

"Itu jelas tidak benar," jawab Naila lembut.

     Saat teman – teman datang dan berusaha untuk menenangkanku, tiba – tiba terdengar suara memanggil namaku, semakin ku dengarkan suara itu semakin jelas. Ternyata suara Pak Danish yang datang dengan terengah-engah nafasnya karena sudah mencariku diberbagai sudut ruangan sekolah.

Aku buru-buru menghapus air mata. Aku malu dengan teman – temanku dan Pak Danish.

“Shay, kamu kenapa? kamu boleh cerita kok kalau kamu mau.” Ucap Pak Danish lembut.

“Emang ada ya yang mau dengerin aku?” jawabku

“Mau doooong….” Jawab teman-temanku hampir berbarengan.

     Aku akhirnya menceritakan semua yang selama ini kusimpan sendiri. Tentang rasa takut, kesepian, tekanan pelajaran, dan sulitnya menghadapi berbagai karakter teman di sekolah baru. Pak Danish dan mereka mendengarkan hingga aku selesai bercerita.

Kemudian Farel tersenyum.

"Shay, tahu tidak? Waktu minggu pertama sekolah aku juga pernah salah masuk kelas."

Aku tertawa kecil.

"Serius?"

"Iya."

"Aku bahkan pernah menangis saat dapat nilai jelek pertama di SMP," tambah Alya.

"Kita semua pernah merasa tidak cocok di sini," kata Arga.

"Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa bertahan," ucap Naila.

"Betul Shay, sekolah bukan tempat untuk mencari siapa yang paling sempurna. Sekolah adalah tempat untuk belajar, termasuk belajar dari kesalahan. Jadi jangan takut menjadi siswa baru yang sedang berproses. Tidak ada bunga yang mekar pada waktu yang sama, tetapi semuanya tetap indah ketika waktunya tiba." lanjut Pak Danish yang dari tadi duduk disebelahku .

Perlahan aku mulai memahami sesuatu. Sebenarnya ada benarnya apa yang sudah dikatakan oleh Naila, Arga, Alya, dan Farel. Aku juga mencerna nasihat yang diberikan oleh Pak Danish kepadaku. Selama ini aku terlalu fokus pada perbedaan yang membuatku takut. Padahal di sekitarku ada teman - teman yang juga sedang belajar beradaptasi seperti diriku.

                                                                         = = = = =

     Sejak hari itu mereka selalu membantuku. Kami belajar bersama, mengerjakan tugas kelompok bersama, dan saling menyemangati ketika ada kesulitan. Aku juga mulai makan bersama mereka saat istirahat, mencoba menjawab pertanyaan guru dan mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Dengan dukungan mereka juga aku berhasil melakukan presentasi kedua kalinya, tanpa cela.

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa semester pertama hampir berakhir.

     Suatu pagi, aku berjalan melewati lobby sekolah yang dulu terasa begitu asing. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan di lapangan sekolah. Terdengar suara teman-teman yang sedang bercanda, guru yang menyapa siswa, serta langkah kaki yang bergegas menuju kelas.

Aku berhenti sejenak.

Tempat yang dulu membuatku takut kini terasa hangat dan akrab.

     Aku tersenyum mengingat diriku pada hari pertama masuk sekolah hingga delapan minggu setelahnya. seorang anak yang kebingungan menghadapi dunia baru. Kini aku mengerti bahwa tumbuh menjadi remaja bukan berarti semuanya menjadi mudah. Tumbuh menjadi remaja berarti berani menghadapi ketakutan, belajar menerima perbedaan, dan tetap melangkah meskipun keadaan terasa sulit.

     Aku bersyukur pernah mengalami masa-masa itu. Karena dari situlah aku belajar bahwa setiap perubahan memang menakutkan pada awalnya, tetapi perubahan juga membuka jalan untuk menemukan versi diri yang lebih kuat.

Kulihat Farel, Arga, Naila, dan Alya melambaikan tangan dari depan kelas.

"Shay, cepat! Pelajarannya udah mau mulai!" teriak mereka.

Aku berlari kecil menghampiri mereka dengan senyum lebar.

      Hari itu aku sadar bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk belajar pelajaran, tetapi juga tempat belajar memahami diri sendiri, menerima orang lain, dan menemukan sahabat yang akan membuat perjalanan menjadi lebih berarti. Dan di antara gedung-gedung megah SMP Al-Islamiyah itu, aku akhirnya menemukan sesuatu yang dulu kucari sejak hari pertama datang: Rasa Nyaman untuk Menjadi Diriku Sendiri.

 

Mungkin Kamu Suka