RETINA
RETINA
Annisa Rahmawati, S.Pd.
“Kringg…” suara bel istirahat terdengar begitu nyaring di kepala. Itu tandanya waktu untuk rehat dan mulai menjajakan dagangan ibu kepada teman-teman. Aku berumur 14 tahun dan merupakan salah satu siswa di SMP 81 Swadaya dan duduk dibangku kelas 8. Aku selalu membawa jualan ibuku dan tak pernah malu menjajakannya. “Aku beli 2 bungkus ya!!” sahut teman-temanku dengan ramainya. Hatiku senang karena hari ini total pemasukan mencapai target seperti biasanya. Oh ternyata masih ada sisa 1 bungkus nasi. “Ahg..Aku berikan pada pengemis di simpang lima saat pulang saja-lah” (benakku).
Malamnya, suasana hening seperti biasa sedang menyelimuti pikiranku. Hari ini terasa berbeda dengan biasanya karena tiba-tiba tubuhku berkeringat dingin. Muncul nyeri luar biasa pada tulang-tulangku dilengkapi rasa mual disertai dengan darah yang tetiba keluar dari hidung. Tak hanya itu, kepalaku rasanya seperti berputar. Pandanganpun mulai buram. Lalu, pandanganku mulai gelap dan perlahan hanya terdengar sayup-sayup 1 kata di telinga, “Selin!!!”.
Paginya, sinar Mentari yang hangat menembus pelipis mataku. Cahaya itu justru terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk langsung ke bola mata kiriku. Kukrenyitkan dahi sembari meraba sesuatu di sekitarku. “Selin..sudah sadar kamu nak?” tanya Wanita paruh baya di sampingku. “Ya bu.. kita ada Dimana? Kenapa silau sekali sih bu?” tanyaku kebingungan. Bahkan sebetulnya aku masih berusaha mengerlipkan mataku berharap segera sadar dari kantuk yang panjang. Sialnya, tulisan “Ruang Rawat Inap Lily” itu terlihat tidak jelas bahkan cenderung bergoyang.
Saat akan mengulang pertanyaanku, Ibu dengan lirik menjawab bahwa kita sedang berada di Rumah Sakit Mardika. Ibu menceritakan bahwa semalam aku terkapar dan masuk ke UGD lalu diharuskan untuk rawat inap. “Baiklah, kalau begitu mari pulang bu aku sudah enakan” tegasku sambil akan beranjak. “Nak.. sabar ya kita tunggu dulu dokter jaga mampir dulu”, sahutnya.
Waktu berjalan terasa lamban tiap detiknya. Itu mungkin karena aku benci dengan aroma obat dan cairan medis yang tercampur menjadi satu di ruangan ini. Setelah berhasil merengek kecil, dokterpun datang dan senyum percaya diri itu tiba-tiba berubah menjadi awal mimpi burukku. Ternyata hari itu aku gagal untuk pulang ke rumah karena harus menjalani semacam tes Kesehatan yang akupun belum tahu. “Dik Selin, 2 jam lagi kamu akan diantar oleh suster menuju ruang laboratorium ya ada yang harus diperiksa” (jelas Dokter yang ada di depanku). Walaupun wajahnya tidak terlihat jelas bahkan cenderung berwarna abu, aku masih mengabaikannya kecuali satu nama di dadanya, yakni Irvan. Beberapa jam berlalu, tangan ibu meraihku dan mengajak duduk sambil termangu di kursi tunggu. Ibuku seorang Asisten Rumah Tangga yang bekerja jauh di luar kecamatan kami. Tiap hari harus menempuh perjalanan kurang lebih 50 menit pulang pergi menggunakan kereta komuter yang terjangkau dan cepat habis itu.
“Selin Karomah silakan masuk”. Namaku sudah terpanggil dan ibu segera menarikku masuk. Dokter Irvan pun sudah menunggu di dalam ruang putih dengan alat-alat canggih itu. Meski samar-samar, aku masih bisa sedikit banyak melihat sekeliling. Hampir sama bahkan lebih mencekam dibanding ruang inapku. Saat aku disuruh untuk duduk di di depan sebuah alat besar bernama slit lamp, Dokter Irvan memintaku untuk menempelkan dagu dan dahinya pada bantalan alat tersebut. “Selin jangan berkedip ya. Ayo tatap lurus ke depan dan tahan sebentar” instruksi sang dokter. Hitungan detik, tiba-tiba Sebuah berkas cahaya terang yang tipis ditembakkan langsung ke dalam bola mataku dan “Arghh silau pusing sekali” batinku. Kukira sudah namun ternyata Dokter Irvan masih memutari lensa alat tersebut dan mengamati lebih dalam mataku sebelah kiri lumayan lama. Kerutan di dahi dan alis dokter itu seketika berubah tidak biasa.
Setelah berjam-jam melakukan pemeriksaan mata, Dokter Irvan meminta kami berdua untuk duduk dan menyimak penyampaian hasil pemindaian USG mata serta CT-Scan yang sudah dilakukan. Jemari ibu semakin meremas tanganku. Kerudungnya yang lusuh itu terlihat tidak presisi karena saking bingungnya melihatku. “Dok anak saya bagaimana kondisi matanya? Kenapa sampai harus dicek pakai alat itu dok? Apa perlu pakai kacamata ya?” tanya ibuku dengan nada yang hampir menginterogasi. Dengan menghela nafas pendek, dokter menengokku dengan ekspresi yang ragu dan tak kuasa. "Ibu Sari dan Dik Selin... dari hasil pemeriksaan fisik luar, pantulan cahaya putih di pupil mata kiri Selin ada yang menyerupai mata kucing nah itu disebut leukokoria," Dr. Irvan menjelaskan penuh kehati-hatian. Aku tahu kalau ia berusaha menggunakan bahasa yang mudah dipahami. "Lalu setelah kami kroscek lagi melalui hasil USG dan CT-Scan, ternyata ada sebuah massa tumor yang tumbuh di retina atau dinding belakang bola mata Selin” jabarnya.
Tak sampai 2 detik, ibu langsung menyahuti dengan nada yang bergetar. “Maksudnya anak saya terkena tumor mata dok?bisa sembuh kan dok? Karena hanya dia yang saya punya di dunia ini” tegasnya sambil mulai menangis terisak. “Lebih jelasnya, Selin terkena kanker mata Bu. Ibu dan Selin yang kuat ya. Saya dan tim akan berjuang semaksimalnya untuk menyembuhkan kanker ganas tersebut karena sudah memasuki stadium selanjutnya” Jawab dokter dengan tatapan penuh arti pada kami.
Hari itu, seperti tersambar petir kencang di siang hari. Nafas penuh sesak dan pasokan udara di dada lantas menipis hampir sesak rasanya. Aku yang masih umur 14 tahun dengan masa remaja yang penuh ceria ini seketika hilang, musnah, bahkan hancur dalam sekejab. Pikiranku hanya satu, apakah umurku sesingkat ini dan apakah aku akan mati dan meninggalkan ibu. Aku melihat Ibu tersungkur sambil menangis sesenggukan sedangkan aku berusaha kuat agar tidak terlihat rapuh. Ingin berteriak tapi aku alihkan dengan pertanyaanku pada Dokter Irvan. “ Dok, kalau saya dikemo atau diobati apakah ada kemungkinan sembuh dan saya masih bisa masuk sekolah?” tanyaku dengan tenang.
Seketika ibu langsung menoleh cepat ke arahku dengan tatapan bingung. Mungkin karena di tengah vonis mematikan ini, hal pertama yang kupikirkan Adalah masuk sekolah.
Dr. Irvan menatapku sambil berusaha menguatkan tanganku. Ia menyampaikan bahwa proses pengobatan kanker ini akan panjang. Bisa jadi setiap bulan harus terus kemo dan beberapa minggu juga harus kontrol Kesehatan lanjutan. Sehingga, aku dilarang kecapean karena efek menjalani kemoterapi untuk mengecilkan tumornya akan sangat melelahkan fisikku. “Jadi, saya sarankan sementara ini kamu harus istirahat total dulu dari sekolah" paparnya dengan lembut.
Pijakan kaki Selin lumayan berat pagi itu. Didampingi oleh ibu, aku melangkah melewati gerbang sekolah. Hari ini Adalah hari pertamaku masuk setelah satu minggu absen karena menjalani siklus kemoterapi pertamanya. Semua orang lumayan menatapku dengan ragam ekspresi. Ada yang simpati, ada yang acuh, maupun datar saja. Aku tidak pedulikan hal itu karena targetku hari ini aku harus menyelesaikan tanggungan tugasku. Aku harus bisa masuk 3 besar paralel di sekolah supaya aku dapat beasiswa dan meringankan beban ibu yang hanya digaji di bawah UMR.
Kulihat ibu menungguku di luar kelas. Aku berusaha fokus mengikuti pembelajaran dan tetap ceria seperti sedia kala supaya tidak ada pertanyaan macam-macam yang terlontar dari teman-temanku. Begitu melewati koridor sekolah, atmosfer yang berbeda mulai kurasa. Banyak mata dan cibiran halus mulai terlontar dan itu cukup membuatku malu juga kepikiran. Hingga malamnya benar, aku mulai demam, nyeri badan, dan sedikit teriak menahan sakit di mata. Ibuku hanya bisa menyuruhku sabar sambil mengompres mataku dan menyuruhku meminum obat yang didapat secara gratis melalui program BJJS yang diusulkan oleh Pak Lurah di daerahku. Beruntungnya Tuhan masih membersamaiku dan ibu. Saat ibu memijati badanku, ia bergumam “Andaikata Bapak masih ada, pasti kita akan lebih tenang menghadapi kenyataan seperti ini ya Nduk. Ibu akan semakin semangat bekerja dan berjualan nasi. Mulai sekarang Nasinya ibu titipkan ke warung jadi kamu tidak usah ikut menjualkan lagi, Nak”.
Benar saja esoknya aku absen selama tiga hari tidak masuk karena tak kuasa menahan sakit ini. Muncul rasa sebal karena tidak bisa fokus belajar persiapan ujian akhir minggu depan. Tiba-tiba, “Assalamualaikum.. ini benar rumah Selin?” tanya seorang Wanita yang sepertinya kukenal. Saat ibu menyuruhku berganti baju ternyata tamu tersebut Adalah wali kelas dan guru BKku, yakni Ibu Rahma dan Ibu Nur. Mereka datang untuk melihat kondisiku sembari memberikanku tugas yang sifatnya bisa dikerjakan semampunya. “Harusnya aku bisa maksimal tapi lagi-lagi kondisiku yang tidak mampu maka mengharuskanku untuk mengerjakan apa adanya” batinku dengan penuh sesak.
“Selin.. minggu depan sudah mulai ujian akhir. Nah, kalau kondisimu tidak memungkinkan hadir di sekolah maka kode mengikuti ujian dari aplikasi akan ibu kirim melalui WA, ya? Tanya Bu Rahma. “ Tidak Bu. InsyaAllah saya kuat dan sehat. Saya akan belajar semaksimalnya supaya nilai saya baik ya Bu” jawabku dengan senyum manis. Setelah mereka pulang, badanku terkapar Kembali di tumpukan kapuk usang ini. Suara kereta lewat di belakang rumah menjadi penghiburanku. Teman-teman di kampung mulai jarang mengunjungi. Tersiar kabar mereka takut tertular atau entah pura-pura tidak peduli denganku yang sakit. Namun, melihat ibu siang-malam bekerja keras akhirnnya membuatku semangat untuk sembuh dan meraih cita-cita, jadi sarjana hukum supaya bisa membela ibuku jika ada yang jahat.
Hari ujian pun tiba. Aku sudah bersiap mengerjakan ujiannya dengan ilmu yang kudapat dari belajar beberapa hari ini. Keyakinanku seperti siswa remaja pada umumnya yang ingin sekali menjadi juara kelas dan disebutkan namanya di depan sekolah. Saat ujian berlangsung, Nita sahabatku berteriak “ Selinn.. hi..hidungmu mimisan ya. Banyak sekali. Ini tisu” sahutnya. “Ssst jangan ramai-ramai. Ini sudah biasa. Bahkan gusiku juga mengeluarkan darah di sela waktu aku belajar. Terima kasih” jawabku dengan Santai.
Satu minggu berlalu, di hari minggu tiba-tiba badanku demam tinggi, pusing tidak bisa tertahan, muncul darah yang deras di area gusi, hingga nyeri hebat di sekitar mata. aku tertunduk lemas dan ibu membawaku Kembali ke rumah sakit. Beberapa jam kemudian aku dimasukkan ke ICU dan seperti biasa kulitku ditancapi oleh jarum-jarum dengan cairan yang panas, kerongkongan terasa pait hingga pandangan gelap total. Saat mulai sadar, ibu yang tertidur di sebelahku aku pegang erat dan baru itu aku menangis dengan penuh sesak menahan agar tak terdengar ibu. Sakit sekali merasakan fisik yang tak berdaya hingga mental yang terkuras. Tapi, aku harus sehat dan sembuh supaya ibu bisa bangga memilikiku yang berprestasi.
Siangnya aku sudah diharuskan pulang. Aku melewati masa-masa classmeeting. Aku hanya melihat postingan teman-teman dari story WA dan grup kelas. Asyik sekali penuh suka cita hingga muncul iri karena mereka foto bersama. Akhirnya, dua hari berlalu pekan pengambilan rapor tiba. Lagi-lagi aku masuk UGD dengan diagnos yang sama, yakni efek kemo yang membuat badanku terkulai seperti biasanya. Aku di UGD sedangkan ibu hadir ke sekolah mengambil rapor. Aku pasrah saja karena aku yakin pasti nilaiku tidak bisa maksimal yak arena aku yang sakit-sakitan. Tapi ternyata saat ibu memasuki ruang inap, ibu memeluk dengan cepat sambil menangis menyatakan bahwa aku masuk 3 besar PARALEL!! Aku membalas pelukan ibu dengan kencang sambil menyatakan Syukur yang tiada terkira. Terima kasih Tuhan ternyata masih mengabulkan doa dan asaku. Aku naik Kelas 9 meski sekarang kondisiku sudah botak, kurus, keriput, dan mudah pingsan. Doaku hanya ingin hidup lama Bersama Ibu.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah
