Cerpen4 dilihat

Tinta Bak

Sedang membaca: Tinta BakDiperbarui 22 Juni 2026

Hari ini, pantofelku berhenti berdecit setelah bel istirahat pertama berbunyi. Satu demi satu pemakai putih-biru keluar dari ruang berjendela terbuka ini sambil mengucap salam. Sedangkan aku? Hanya mengubah posisi sepatuku menjadi di belakang meja depan. Tanganku memutar tutup botol dan bersiap mengantarkan isinya ke tenggorokan. Berjalan mulus hingga . . . .

"Bu . . . .” seorang pemuda yang memakai putih-biru menghampiriku dengan membawa kotak yang tidak asing.

“Baru? Tinta yang kemarin sudah habis?” Dia mengangguk mantap dan bangga. Disodorkannya kertas sketsa padaku. Biasanya setiap dia membeli tinta bak, ada selembar kertas sketsa yang dia hadiahkan. Bagiku itu manis.

“Buat Ibu? Lalu kapan kamu menunjukkan karyamu?” Dia hanya tersenyum dan menyembunyikan wajah. Lalu berpamitan.

Kupandangi kertas kosong di hadapanku. Tanganku mengelus serat yang lama kurindukan. Ingatanku kembali pada satu digit angka tahun ajaran mundur.

Seorang pemuda tanggung memakai jeans bersetel hoodie putih menghentikan Vario merahnya di depanku.

“Punya SIM?” Cengiran khas dan gelengannya membuatku mengepalkan tangan di samping pahaku. Kulirik rekanku yang siap untuk menyalakan motornya.

“Uthi ikut Felix saja. Aku di belakang kalian. “

Aku diam dan memposisikan diriku di kursi penumpang. Dia tak mungkin mengizinkanku mengemudi.

“Pakai helm. Kecepatan maksimal 40 km/jam. Kalau ada polisi, kita turun. Kamu jalan, Ibu naik motor.” Lalu kami bergegas mengejar mobil yang telah mengantarkan teman-temannya ke Lokasi foto. Tidak bisa dibenarkan keputusan yang aku ambil. Namun, jika ada kesempatan lain, aku tidak akan memilih opsi lain.

Hari itu, kami memiliki agenda berfoto kenangan di jalan pusat kota. Telah kami sepakati sedemikian rupa caranya agar mereka tidak berkendara dan tidak mengeluarkan biaya. Tapi, anak satu ini berbeda. Label ‘mbolosan’ yang disandangnya sepanjang tahun lalu tidak boleh ia terima lagi dan mengecewakan teman-teman yang telah berbagi ruang belajar dengannya.

“Dari mana kamu semalam?” tanyaku dari kursi penumpang.

“Biasa Bu antar paket. Lumayan dikasih lima puluh. Bisa buat beli makan nanti.”

Namanya Felix. Remaja lelaki tanggung yang kehadirannya di dalam kelas bisa dihitung dengan jari. Hadirpun selalu duduk pojok dengan kepala yang lemas di atas meja. Dia nakal? Bagiku tidak. Hanya tidak seharusnya dia menanggung beban pada usianya.

Aku menyaksikan pemuda putih berambut ikal itu sejak ia masuk gerbang SMP berseragam SD. Dia dulu tidak begitu. Dia anak yang ceria dan suka nyengir menggoda, mengobrol hal receh dan aneh bagiku yang sudah hampir berkepala tiga saat itu. Seperti anak laki-laki aktif lainnya.

Namun, ia berubah saat kelas delapan. Banyak guru mengeluhkan kehadirannya. Hingga kelas sembilan kami kembali berjodoh. Ia bukan lagi si tengil cengengesan yang sering menyapaku ketika berpapasan.

Entah kemana sembunyi anak itu. Hingga suatu hari kujemput dia di rumahnya yang cukup luas untuk ukuran gang sempit.

Hampir siang saat itu. Tapi ia masih belum bangun. Neneknya yang sudah renta membangukannya. Sedangkan aku memangku sepupunya yang tiba-tiba nemplok. Cukup lama kami menonton ‘Gogo Dino’ menunggu Felix bersiap. Neneknya menahan air mata melihat cucunya yang cakap itu pergi ke sekolah. Lirih beliau mengucap, “Titip Felix, Bu…” yang aku angguki pelan.

“Mbak, besok sempatkan waktu untuk memanggil mama Felix ya. . . .” pesanku pada rekan guru BK setelah konseling.

Hari itu, kami paham ada jurang yang sedang Felix gali. Bukan untuk menjatuhkan siapapun. Tapi, untuk membangun dom perlindungan dirinya. Ibunya harus tahu sebelum Felix mengunci dirinya dari dalam.

Apa yang bisa seorang anak lakukan jika menemukan orang kepercayaannya berhianat? Jika dia menunggu belasan tahun dengan harapan ayahnya pulang dan hidup dari harapan itu, lalu tiba-tiba foto ayahnya menggendong seorang anak perempuan yang bukan saudaranya ia temukan? Bisa apa dia? Pilihannya dua. Ikhlas yang tidak akan dia pahami pada usianya atau marah pada siapapun untuk melindungi harapannya. Dan Felix memilih opsi yang kedua. Siapa yang ia marahi? Ibunya yang merahasiakan kebenaran belasan tahun. Ibunya yang membiarkannya memupuk harapan. Ibunya yang bekerja sendirian membiayai lima anak. Dan dia, yang menyaksikan itu tanpa tahu beban yang ibunya tanggung telah beranggapan bahwa ayahnya bekerja sangat keras, tapi tidak cukup untuk mereka.

Akhirnya, anak sekecil itu dikarbit. Ia dengan kematangan emosinya yang kurang memilih bekerja di malam hari menjadi pengantar paket tanpa tahu apa yang ia antar untuk menghidupi dirinya. Hingga jam tidurnya seperti kelelawar. 

Mendalami sosok remaja lelaki itu cukup sulit. Hingga ia mau membuka diri dan mau mengakui besarnya cinta untuk ibunya. Lain sisi rindu ayahnya. Sehingga ia menabung untuk menemui ayahnya. Anak berkulit putih dan mancung itu ingin bertanya langsung tentang alasan meninggalkan mereka.

Pada titik itu, kami tidak bisa mencela, tidak boleh melabeli, dan wajib mendampingi. Pada dasarnya tidak ada anak yang nakal. Hanya keadaan yang ‘menakalkannya’. Betul bukan? Lalu, keputusan mendampingi, sesekali mencari celah untuk menasehati, dan mencegahnya masuk ke jurang adalah yang terbaik bagiku.

“Bu, nanti ayah mau telpon. Tapi pakai HP tante.” Dari nada yang ia gunakan, aku yakin dia tersenyum.

“O iya? “ aku ikut Bahagia. “Mama tahu?“ Dia tidak menjawab. Ibunya sedang di Malang bersama keluarga yang lain. Hanya ia yang di rumah.

“Ibu antarkan ke rumah tantemu.” Putusku cepat dan tak ingin dibantah. Aku yakin dia sangat keberatan, tapi aku mengotot.

Kami benar-benar ke rumah tantenya. Kami disambut dengan kegiragan. Lalu menyilakan kami duduk dan Felix segera ke lantai dua untuk menunggu telpon ayahnya. Selalu ada cerita setiap bertemu keluarganya. Ada beban yang tidak tercurah dan air mata yang tertahan. Hal itu berjalan seperti lumrahnya.

Aku memohon izin bertemu Felix di lantai dua. Ketika kakiku menuju anak tangga terakhir, buru-buru ia matikan puntung yang ia hisab. Lalu buang.

“Bagus. Sudah sadar diri. Kalau mau mati, jangan ajak ibu.“ sarkasku padanya.

“Enggak Bu.” Akhirnya cengiran dua tahun lalu terbit lagi. “Saya sudah jarang ngrokok sekarang. Keseringan sekolah jadi kalau malam jarang dapat uang.” Kelakarnya.

“Alah. Parlente. Ibu tahu kamu kerja di rumah orang PU di gang dekat sekolah kan? Gajimu di atas 700 sebulan kan?”

“Kok tahu?”

 “Guru itu profesi setengah jadi. Setengah jadi dokter, setengah jadi damkar, setengah jadi polisi, setengah jadi detektif buat anak kayak kamu.” Kami pun tertawa terbahak-bahak. Kuterogoh saku celanaku. Tak ada apapun waktu itu kecuali fountain pen. Kuselipkan di sela jarinya.

“Bawa terus pena ini. Kalau kita bertemu lagi, kembalikan dan ceritakan apa saja sudah kalian lalui. “

Lalu kami berpamitan dan pergi. Diiringi doa dan masing-masing. Selalu ada Pelajaran yang tidak disediakan oleh ruang berjendela yang ditinggalkan saat bel berbunyi.

 

 

 

Mungkin Kamu Suka