Ruang Dengar
Ruang Dengar
Finda Mia Wulandari
Di sudut kelas yang sunyi, meja tua dan dinding usang yang tak pernah berbicara menyimpan banyak cerita. Mereka saksi bisu bahwa setiap nyawa yang pernah hidup di sekolah membawa banyak emosi. Amarah, kecewa, sedih, bahkan frustasi sering bernafas beriringan dengan proses pembelajaran. Beberapa sosok yang dianggap penerang kegelapan bahkan mematikan nyalah apinya tanpa memberikan kesempatan. Padahal, mereka hanyalah penghuni sekolah yang kebingungan mengekspresikan emosinya karena rumah dan lingkungan sudah tidak memiliki ruang untuk mendengar.
“Tolong, jangan keluarkan siswa itu Pak. Jika tidak ada satu pun guru yang ingin menjadi wali kelasnya, izinkan saya menjadi wali kelasnya, ujar Pak Dani dengan penuh harapan.
“Kenapa? Sudah berapa banyak bentuk apresiasi dengan maksud terselubung yang kau terima?” Kepala sekolah terus menyerang dengan pertanyaan menyudutkan.
“Ini bukan soal ucapan terima kasih. Pendidikan ini bukan arena pertandingan bagi yang pintar dan membanggakan bagi sekolah. Seorang pendidik bukan yang paling pandai menghasilkan nilai baik, tapi yang kuat untuk sabar membersamai setiap proses belajar siswa yang berbeda.” Dengan langkah tegas Pak Dani keluar dari ruangan.
Kemenangan argumen di tangan Pak Dani. Ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi wali kelas 8I. Kesempatan ini juga menjadi bumerang baginya yang siap dikeluarkan oleh sekolah jika gagal membawa Tian menjadi anak yang baik.
Babak baru dimulai, telinganya semakin panas. Ruang guru penuh dengan cerita, bukan tentang profesionalitas kerja, tapi tentang seorang anak yang kerjanya hanya bolos. Nilai-nilainya kosong meski ia masuk karena jiwanya sedang berkenalan bersama mimpi-mimpinya.
“Hai anak muda, persoalan kelasmu ini rumit. Kau terlalu muda untuk menyelesaikan masalah ini. Butuh banyak makan asam garam untuk keluar dari masalah ini. Paling penting, seorang guru itu punya batas dengan siswa, kamu guru dan mereka siswa. Tegaskan batasan itu agar kau tampak wibawa! Sosok senior di sekolah yang kemudian berlalu tidak ingin ada diskusi panjang.
Pada saat evaluasi kinerja di ruang guru, kelasnya kembali dibahas. Satu diantara banyak orang dengan pandangan lama menyudutkannya. Label baru “kurang wibawa” ditujukan pada Pak Dani. Pengalamannya kecil, tapi pemikiranya yang luas membuat keberaniannya selalu ada di dalam setiap keadaan. Akan tetapi, kali ini dia memilih diam.
“Hajar… habisin dia….!” Semua berteriak.
Tian babak belur dihajar teman-temannya. Suasana evaluasi seketika bubar dan fokus beralih pada perkelahian siswa. Melihat itu, tanpa amarah Pak Dani memanggil Tian lalu mengedukasinya dengan nada halus.
Kejadian babak belurnya Tian karena hal sederhana. Ia mencuri buku tugas temanya dan menggantikan namanya. Hal yang membuat parah bukan mencurinya, tapi ancaman Tian yang akan memukuli si pemilik buku selepas pulang sekolah.
Hari-hari pun sama, bahkan kelas 8I semakin menjadi perbincangan publik di sekolah. Setiap hari ada saja gebrakan yang dilakukan oleh Tian, mulai merusak fasilitas sekolah, tidur di kelas, membentak guru-guru yang menurutnya galak, atau bahkan iseng menyembunyikan pensil teman-temannya. Akan tetapi, Pak Dani masih bertahan dengan prinsipnya untuk membimbing Tian dengan penuh kesabaran.
Jam pulang sekolah, hari ini Pak Dani pulang menggunakan bus karena hujan yang tak kunjung redah. Dari kursi yang berbeda, ia melihat Tian dengan bajunya yang kusam tak terawat. Padahal, Tian seorang anak dari petinggi angkatan dan seharusnya penampilannya lebih baik dari pada itu.
“Hajar…hajar…sampai mampus.”
Mata yang semula terpejam, terbangun dari alam mimpinya. Pak Dani seperti mimpi mengingat kejadian Tian dihajar oleh teman-temannya di sekolah. Tapi, ini bukan mimpi, Tian benar-benar dihajar oleh massa. Hidungnya berdarah dan sebilah pisau sudah mendarat di permukaan kulit lehernya.
“Sebentar, ini anak saya. Ada apa?”
“Oh ini bapaknya maling, anak Anda mengambil HP saya diam-diam. Ini harus dihabisi, kecil-kecil sudah jago.” Ujar salah satu penumpang.
“Habisin-habisin saja…. “
“Jangan pak, maafkan anak saya. Maafkan saya yang sudah salah dalam mendidiknya!” Pak Dani memohon bahkan bersujud di kaki si pemilik HP.
Pak Dani dan Tian dikeluarkan dari bus. Mereka duduk di sebuah taman yang sepi karena hujan turun begitu lebat. Mereka terjebak dalam suasana yang tidak mengenakkan. Selembar sapu tangan Pak Dani, satu-satunya obat pertolongan pertama yang menghambat pendarahan di hidung Tian.
“Kenapa sih pak, bapak selalu membela saya? Hari ini bapak juga menguntit saya hingga bus? Saya paham, bapak takut dipecat kan? Saya akan keluar dari sekolah sebelum bapak dipecat.”
“Saya lebih baik dipecat daripada gagal menjadi guru. Bisakah kamu berubah menjadi anak yang baik. Tidak perlu pintar, kamu cukup rajin dan baik. Semua guru tahu kamu, dalang dari setiap masalah yang ada di sekolah. Bisakah kamu berubah, bukan untuk saya, tapi untuk masa depanmu.”
“Apa jaminan jika saya baik, apa jaminan jika saya pandai, siapa yang peduli?”
“Saya tahu, bapak-ibumu bercerai. Lalu karena itu kamu begini? Orang tua saya juga bercerai, beruntungnya saya tidak seperti kamu karena menutup semua luka dengan ambisi dalam prestasi.”
“Kita beda pak, apa bapak tahu rasanya pulang bawa piala dan ternyata di dalam kamar bukan ibu dan ayahku, tapi ayah dan tanteku. Itu kado terindah saat saya pulang membawa piala. Saat ini, ketika pulang ke rumah, ayah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri dan peran ibuku diganti oleh tanteku yang tidak mau mendengarkan. Lalu aku mencari ibuku untuk bercerita, ternyata ia tidur beralaskan tanah dan tak akan pernah bangun lagi. Di mana ruang untuk saya bercerita, jika semua keluargaku sibuk dengan urusannya. Apalagi penghuni dunia ini, yang jelas-jelas sibuk dengan urusannya masing-masing.”
Perkataan itu menampar Pak Dani keras-keras. Ia hanya melihat siswa dari permukaan dan tidak pernah menyelami dalam-dalam kehidupan siswa. Sebagai guru BK di sekolah, Pak Dani sadar bahwa setiap anak yang nakal hanya butuh ruang untuk diapresiasi dan divalidasi.
Kejadian saat di taman membuat Pak Dani dan Tian semakin dekat. Tian semakin banyak bercerita kepadanya tentang apapun yang terjadi. Nilai dan sikap Tian semakin baik, Pak Dani berhasil menjadi ruang atas depresi yang dialami Tian.
Berawal dari situlah, Pak Dani memberikan kepercayaan kepada Tian untuk menjadi tim dalam proyeknya. Tian semakin senang karena dirinya merasa divalidasi dan diapresiasi. Proyek “Ruang Aman Cerita” menjadi kegiatan baru bagi Pak Dani dan Tian. Setiap hari Sabtu, mulai pukul 09.00 WIB - 12.00 WIB mereka aktif di web yang menyediakan ruang untuk siswa bercerita dengan catatan menyembunyikan identitas dirinya.
“Hai… Mimin (admin), hari ini aku di bully temanku karena kulitku hitam. Mereka memanggilku gadis mendung. Rasanya aku tidak ingin ke sekolah.” Curhat seorang siswa dalam web.
“Hai.. makasih sudah mau bercerita. Kamu hebat sudah berani bercerita tentang kasus ini. Tapi perlu diketahui kalau warna kulitmu itu bukan kekurangan tetapi anugerah dari Tuhan. Justru kamu harus bangga karena Tuhan memberikan melanin lebih banyak agar kamu tidak terpapar langsung sinar uv. Jangan dengar kata mereka ya, kamu tetap berharga dan pantas dihormati.
Proyek itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan sekolah, ia tumbuh menjadi ruang yang menumbuhkan semangat belajar dan rasa percaya diri siswa. Tian mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda, bahwa ia tetap berharga dan berarti di mata orang lain. Sementara itu, Pak Dani semakin yakin bahwa tidak ada siswa yang benar-benar nakal, melainkan mereka sedang berada dalam proses belajar yang membutuhkan arahan, pengertian, dan ruang untuk didengar.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah
