Cermin Pojok Kelas
Suasana kelas masih sama sedari awal aku menginjakkan kaki pertama kali di ruang ini. Susunan meja masih sama, namun ada sedikit beberapa coretan yang pernah aku tulis enam belas tahun yang lalu memudar bahkan ada yang hilang entah kemana. Lamunanku semakin menjadi ketika aku melihat cermin di pojok kelas 7-A, semua tiba-tiba hilang saat spidolku jatuh.
Aku berjalan menyusuri tempat-tempat dengan penuh bayangan hitam-putih samar-samar. Langkahku teredam riuh rendah suara halaman buku yang dibalik oleh murid-murid lain. Deretan bangku belakang sebelah kanan, Angga masih setia dengan posisinya: menopang dagu, menatap kosong ke halaman empat puluh buku paket Bahasa Indonesia yang membahas struktur teks eksplanasi. Matanya menahan kantuk, menyisakan beberapa sentimeter jarak antara kepala dengan meja.
Menahan suara kaki agar tidak terlalu berisik ketika beregesekan dengan lantai, aku perlahan menuju bangku kosong sebelah Angga. Aku menarik kursi kosong di sebelahnya. Angga langsung menegakkan punggu, wajah pasi siap menerima omelan karena tertangkap basah melamun.
Alih-alih mengeluarkan buku nilai, aku merogoh tas kerjaku. Aku mengambil sebuah buku berwarna biru, ada sedikit ilustrasi menarik di depannya—sebuah novel popular yang sedang viral di kalangan remaja. Jauh dari kesan kaku, jauh dari bau apak perpustakaan.
“Bosan, Ngga?” tanyaku berbisik, agar murid lain tidak terganggu.
Angga menelan ludah, ragu dan tidak berani menjawab.
Aku menggeser novel popular itu ke atas meja tepat di depannya, di atas buku paket Bahasa Indonesia yang membahas teks eksplanasi itu.
“Tutup buku paketmu. Baca ini sampai bel pulang. Kalua minggu depan kamu belum selesai membacanya, Bapak hukum.”
Angga terbelalak. “Ta..ta… tapi Pak…… ini kan bukan buku pelajaran?”
Aku tersenyum tipis. Aku berdiri tepat di depan cermin pojok kelas yang sudah mulai kusam, di dalamnya terlihat seorang siswa yang dengan sengaja menyembunyikan novel di dalam buku paket Bahasa Indonesia saat bosan mendengarkan penjelasan tentang struktur teks eksplanasi.
“Angga, bosan itu wajar, tapi merusak otak karena melamun berjam-jam itu rugi. Membaca sama halnya dengan kamu mendengarkan musik atau bermain game. Kalau kamu dipaksa mendengarkan musik yang tidak kamu suka, kamu pasti bosan bahkan pusing. Membaca buku bukan untuk terlihat pintar di depan orang lain, tetapi untuk membuat otakmu punya “tempat bermain” yang seru saat dunia nyata sedang membosankan.” Celetukku pelan di samping Angga.
Sesaat aku teringat sebuah nama yang tak asing di otakku “Pak Suet” guru Bahasa Indonesia yang sering kali menegurku di ruang kelas. Bangku nomor tiga sebelah kiri dekat dengan jendela mungkin masih menyimpan ingatan kalimat yang keluar saat itu. Kejadian itu ada sedikit persamaan, aku yang saat itu hampir mati kebosanan di ruang itu. Buku tersebutlah yang menyelamatkanku sampai akhirnya bisa berdiri di depan kelas menjelaskan tentang struktur teks eksplanasi.
Cermin dan bayangan kejadian di dalamnya merangkai sebuah kisah sederhana yang belum diketahui akhirnya. Bertahun-tahun cermin yang hanya menempel di dinding pojok ruang kelas 7-A tanpa sebuah instruksi khusus ia dapat merekam jelas sebuah peristiwa yang terjadi setiap detiknya.
Lamunanku seketika tersadar saat bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Seorang anak yang berusaha menyembunyikan rasa bosan di ruang kelas bisa berdiri di depan kelas dan meneruskan pembelajaran dengan tidak memaksakan setiap murid harus patuh dan menyimaknya dengan baik.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah
