Mengalir Seperti Air oleh Kevin Dewanda Moudizka
Hidup di salah satu kota metropolitan dengan beragam suku dan budaya. Hiruk pikuk kendaraan yang menapak tanah, melayang di awan, maupun mengapung di luasnya samudera. Menjadi pilot, dokter, tentara, maupun presiden adalah cita-cita yang biasa diucapkan anak-anak. Dan itu semua memerlukan amunisi yang namanya ilmu, usaha, dan doa.
Mari bergabung … hanya untuk pria sejati. Kulihat kata-kata itu ketika melihat poster penerimaan menjadi tentara. Terlahir dari keluarga militer membuat dorongan untuk menjadi sosok penerus profesi salah satu anggota merupakan hal yang lumrah.
“Nak, teruskan perjuangan ayah dan kakekmu menjadi pengabdi negara” sahut ibuku.
“Tapi Bu … badanku masih keliatan kurus … sedangkan tentara yang aku lihat, badannya besar dan kekar. Aku sudah berusaha sampai sejauh ini, namun hasilnya masih belum berubah dan …” sontak aku terdiam dan sejenak jari ibuku menyentuh bibirku.
“Nak, percayalah usaha yang kuat tidak akan mengkhianati hasil. Jangan patah arang!” bisik ibuku sambil mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba ayah memanggilku dan menyuruh untuk mengantar kue lapis kukus khas Surabaya ke rumah atasan ayahku. Rumahnya tak jauh dari kompleks perumahan dinas tempat aku tinggal.
“Assalamualaikum Selamat sore pak Ardi”.
“Waalaikumsalam. Eh dek Dewa. Terima kasih sudah diantar. Sini duduk dulu, saya ambilkan uangnya di dalam.”
“Iya pak Ardi”.
Pak Ardi merupakan sosok yang ramah dan rendah hati. Itu ditunjukkan juga kepada para anak buahnya, termasuk ayahku. Setelah kembali dengan menyerahkan uang, aku langusng pamit. 2 hari lagi aku memasuki tahap seleksi cek fisik dan kesehtan jasmani. Lari-lari kecil memutari kompleks maupun asupan makanan kulahap. Hari H pun tiba. Berjan-jam aku dan para peserta lainnya didatangi para panitia seleksi yang semuanya merupakan pengabdi NKRI ini.
Senja pun tiba. Tak selang beberapa hari, pengumuman pun keluar. Eksptetasi tidak sesuai dengan realita. Aku tidak lolos. Ayah dan ibuku langsung memelukku. Sempat ada rasa kecewa. Mungkin saat ini bukan hari keberuntunganku.
Melepas penat bersama Egi, teman masa kecilku. Pantai Kenjeran bercengkrama dengan semilir angin diiringi semerbak aroma sate. Itu yang aku lakukan hari berikutnya. Selesai makan, aku duduk dan berjalan menyusuri bibir pantai.
“Apa yang kurang dari saya Tuhan? Kenapa? Kenapa?”
“Nggak ada bro. Sudahlah, kamu nggak perlu banyak mengeluh, apapun yang sudah terjadi, biarlah berlalu”.
Tampak dari kejauhan, aku melihat seorang pemuda asongan, masih muda, mungkin seumuran dengan aku dan Egi. Dia sedang bersama dua orang pria bertubuh kekar.
“He Jo Paijo, sepi ya lu … badan lu tambah krempeng aja”, sahut preman satu.
“Makannya lu banyakin lagi setor ke kita ini. Sudah, nggak basa-basi lagi. 300 ribu untuk bulan ini.” pungkas preman dua.
“Bang, saya bulan ini Cuma dapat 800 ribu, itu pun saya bagi lagi dengan adik saya yang lagi sekolah untuk keperluan sekolahnya. Makan sehari-hari juga kita berdua kadang makan kadang minum air keran bang. Saya bayar separuh dulu ya bang?” ucap pemuda itu.
“Lu pikir kita ini dagang baju Jo? Jo Paijo, tak usah banyak bacot lah kau itu. Tinggal bayar lu pakai nawar-nawar lagi” sahut preman 1 sambil memegang pundak pemuda itu.
Duag. Tiba-tiba Gumpalan batu mengenai preman 1. Preman 1 mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Preman 2 mengejar orang yang melempar batu itu. Egi datang dengan membawa balok kayu sambil mengancam preman 1 yang sedang kesakitan. Sementara aku mengerjar preman 2.
“Wooy … pergi lu anjing … gua habisin lu.”
“Awas lu Jo, besok gua kembali lagi”.
Preman 1 kabur sambil memegangi kepalanya. Sementara aku terus mengejar preman 2 dan seorang gadis yang melempar batu ke preman 1 tadi.
“Woy! Berhenti lu bocil sialan.”
Buukkk. Preman 2 terjatuh, tersungkur ke pasir pantai. Kemudian bangun sambil melihat ke arah lari gadis itu, namun sudah kehilangan jejak. Dia menelpon dan langsung kabur dengan motor yang sudah ada preman 1 yang sedang menunggu. Sementara aku berhasil mengikuti gadis itu yang sedang berhenti denga napas ngos-ngosan.
“Nak, kamu nggak apa?”.
Dia hanya menggelengkan kepala sambil mengerakkan tangan yang mengisyaratkan suatu kode kalau dia adalah adiknya pemuda asongan tadi yang bersama Egi. Aku langusng menyadarinya kalau dia bisu. Kemudian aku mengambil kertas dan menuliskan tulisan ‘Aku akan menolongmu dan kakakmu’. Sontak gadis itu langsung memegang tanganku dan segera menuju tempat pemuda asongan dan Egi.
“Egi, gimana kondisi lu? Mana Preman 1 nya?”
“Dia sudah kabur bro!”.
“Mas, kamu nggak apa-apa?”
Sang gadis memeluk kakaknya sambil menangis. Aku baru menyadari selain adiknya bisu, sang kakak ternyata buta. Sontak aku mengeluarkan air mata. Egi langusng berbisik denganku dan sepakat untuk memberi sebungkus nasi dan beberapa uang. Mereka menerinanya. Aku memberi sedikit wejangan kepada mereka berdua untuk segera melapor ke aparat negara tentang kejadian ini. Sang pemuda asongan memberi tau kami berdua bahwa preman itu akan mengancam membunuhnya dan adiknya jika berani melapor sehingga mereka diselimuti kekhawatiran. Saat itu juga sang adik langsung memberi namaste dan langsung menarik tangan kakaknya untuk segera pergi dari pantai. Aku dan Egi segera bergegas pulang ke parkiran.
“Aku speechles bro”.
“Iya Gi. Sebelum kejadian tadi, mungkin aku banyak meneluh karena amarahku akan kegagalan seleksi TNI. Melihat kejadian tadi, aku sekarang akan lebih banyak instropeksi diri. Tuhan masih memberiku mata untuk melihat, mulut yang bisa mengeluarkan kata-kata, dan bagian tubuh lainnya secara normal”.
Teringat dalam benakku suatu nasihat. Banyaklah bersyukur selama Tuhan memberikan anugerah. Meski ada kegagalan, tapi di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang masih kekurangan. Bahkan untuk makan saja mereka harus berjuang, berkeringat di panasnya terik matahari.
Keeseokan harinya aku mencoba mengevaluasi diri lagi. Terkadang untuk menjadi orang sukses tidak selalu sesuai dengan apa yang aku dambakan ataupun yang diinginkan keluarga. Alternatif lain, aku merasa pendidikan itu menjadi kunci kesuksesan hidup selain agama. Karena dalam dunia pendidikan, agama pun diajarkan. Maka aku akan memilih profesi pendidik. Ya, semoga dengan kampus yang aku pilih, aku berharap diterima.
Saat dimana kamu sudah mencoba suatu target dan gagal, maka janganlah patah semangat meski sesuatu yang kamu idam-idamkan belum bisa kamu raih. Masih banyak jalan menuju Roma. Masih ada jutaan orang di luar sana yang diberi ujian lebih sulit yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Baik ujian itu sudah ada sejak lahir maupun ketika di tengah perjalanan hidup seseorang. Jalani saja hidup ini mengalir seperti air.
***
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah
