PELAJARAN YANG GAGAL USAI
Jarum jam dinding di atas papan tulis hitam bergerak lambat menuju pukul dua siang. Udara di dalam ruang kelas terasa pengap, bercampur dengan suara dengung kipas angin tua dan gumaman guru IPS yang sedang menjelaskan tentang struktur tanah. Aku duduk di bangku paling belakang, menatap kosong ke luar jendela.
Pikiranku justru melompat kembali ke subuh tadi, pukul 05.12. Aku ingat betul bagaimana kursi kayu yang kaki kanan bagian belakangnya sedikit patah itu sudah bergerak-gerak di teras, membuat tanah di bawahnya bersiap menjadi lubang. Kakekku biasa duduk di sana sambil mengenakan sarung motif kotak-kotak berwarna putih dan abu muda—sarung yang katanya ia beli jauh sekali dengan berjalan kaki bersama kakak perempuanku.
Setiap kali kutanya, "Berapa harganya, Kek? Apa sangat mahal sehingga nenek tidak boleh sering mencucinya supaya susunan benangnya tidak rusak?" Kakek hanya tertawa kecil sambil mengangkat kepalanya.
"Di mana aku taruh cabai yang baru kubeli tadi, ya?" Suara Nenek yang sedikit melengking pagi itu tiba-tiba terngiang di telingaku, memutus lamunan tentang Kakek. Pagi tadi, Nenek memekikkan telinga Kakek yang sedang menikmati petrikor di teras belakang.
"Kangmas tidak tahu?" tanya Nenek lagi. Kakek hanya menghela nafas dan menarik ujung-ujung bibirnya tanpa menjawab. Dalam hatinya, aku tahu Kakek menggerutu: Sedari tadi aku duduk di sini, lagipula sepagi ini hanya ada air putih di atas meja, aku tidak suka memakan cabai tanpa makanan lain.
"Hei, malah melamun. Perhatikan depan," bisik teman sebangkuku, menyenggol lenganku.
Aku tersentak, kembali ke realitas ruang kelas. Aku mencoba fokus pada buku catatanku, namun bayangan kakak perempuanku yang tadi pagi sangat girang kembali mengusik. Pagi ini, Kakek berjanji mengajaknya berjalan-jalan ke desa seberang untuk membeli sarung baru. Jaraknya 2 kilometer, tetapi bagi Kakek itu hanya 200 meter.
"Kali ini aku akan dibelikan apa, Kek?" tanya kakakku girang pagi tadi, sambil memainkan kepangan duanya yang ditarik karet rambut dengan sangat kencang.
"Mau apa? Tapi kakek hanya membawa uang 20 ribu, tidak bisa membeli yang lebih dari itu, ya?"
"Kalau sandal yang di atasnya ada bentuk pita warna merah muda yang minggu lalu aku lihat itu apa bisa dibeli dengan uang 20 ribu?" Kakek tersenyum lalu menggandeng tangan kakakku yang kalau orang Jawa bilang mucuk eri itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kelas memecah keheningan pelajaran. Semua mata tertuju ke arah pintu. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat sosok yang berdiri di sana. Bukan Ibu, bukan Nenek, melainkan Cak Kasim, tetangga kami yang masih mengenakan baju kerja dengan wajah yang amat panik. Ia berbisik kepada guru IPSku, yang kemudian menatapku dengan tatapan iba. "Nak, kemasi barang-barangmu. Kamu dijemput pulang duluan," kata Ibu Guru.
Dengan perasaan tidak karuan, aku naik ke boncengan motor bebek Cak Kasim yang berisik. Sepanjang jalan, Cak Kasim tidak mengatakan apa-apa, ia langsung memacu motornya bukan ke rumah, melainkan membelah jalan menuju Puskesmas Kalijati. Di sana, atmosfer hangat rumah kami subuh tadi telah menguap sepenuhnya. Puskesmas terlihat cukup ramai. Saat aku dan Cak Kasim berlari menyusuri lorong yang hanya ada tiga itu, aku melihat Ibuku baru saja turun dari motor lain, wajahnya pucat pasi.
"Di mana, Pak? Bapak saya? Yang asma," suara Ibu bergetar dalam sekali tarikan nafas kepada petugas loket.
Cak Kasim bergegas menarik tangan Ibu dan membimbing kami semua ke ruang ICU. Di depan ruangan, kakak perempuanku sudah terduduk sambil terisak-isak, memeluk erat sepasang sandal jepit baru dengan bentuk pita warna merah muda di tangannya.
"Kakek kok lama, Bu, bangunnya?" tangis kakakku pecah saat melihat Ibu.
"Bapakmu tadi sepertinya kecapekan, katanya berhenti di depan penjual sandal. Kok tiba-tiba pingsan," jelas Cak Kasim mengklarifikasi kronologinya kepada Ibu.
Ibuku hanya diam, memandang tubuh Kakek yang terbujur kaku di balik kaca. Tak lama, Ayah dan Nenek datang. Ayah segera memeluk Nenek, mencoba menjadi manusia yang paling tegar di ruangan itu, meski gagal menyembunyikan getar di bahunya. Tiba-tiba, mesin medis di dalam ruangan berbunyi nyaring, sebuah tanda emergency. Suasana menjadi kacau. Cak Kasim berlari memanggil bantuan, menarik seorang wanita petugas administrasi yang melintas.
"Pak, sebentar saya panggilkan perawat, saya petugas administrasi, tidak tahu caranya!" teriak wanita muda itu sambil berlari kencang.
Satu jam. Dua jam. Kami menunggu di lorong puskesmas yang sedikit gelap itu dalam ketidakpastian. Kakak perempuanku akhirnya tertidur di kursi besi panjang dengan mengigau beberapa kali, masih mendekap sandal merah mudanya. Sementara itu, Nenek terus mengomel, mencoba menutupi ketakutan besar di kepalanya.
"Wes tuwa kok jan ngeyelan! Eh, mbuh!" ucap Nenek berulang kali, menyalahkan Kakek yang kepala batu karena nekat berjalan jauh dalam kondisi asma kronis.
"Sudahlah, Buk. Bukan waktunya menyalah-nyalahkan. Bapak juga tidak tahu kalau akhirnya akan pingsan," sahut Ayah lirih.
Pintu ICU terbuka. Seorang dokter piket yang umurnya masih muda, sekitar seperempat abad keluar dengan wajah tenang tetapi menyiratkan duka.
"Saya bisa bicara dengan siapa? Istri atau anaknya tolong bantu saya sebentar," tanyanya memecah renungan kami. Ayah maju dengan cepat, wajahnya pasrah seperti bersiap dieksekusi mati.
Ibu yang tiba-tiba teringat kakak laki-lakiku, Aji, ditinggal sendirian di rumah, sempat berlari mencari Cak Kasim di ujung lorong. Namun, sebuah teriakan histeris dari arah depan ICU menghentikan langkah Ibu. "Dia pergi, Le! Piye, Le? Ibuk piye?!"
Suara Nenek memecah keheningan puskesmas. Langkah Ibu terhenti. Prasangka buruk yang sedari tadi ditutupi dengan doa akhirnya terjawab. Kakek telah tiada. Ayahku keluar dari ruangan dokter tanpa mengeluarkan setetes air mata pun. Ia hanya diam, berjalan mendekati kakak perempuanku yang terbangun, lalu menggendongnya dengan tatapan kosong, seolah ada badai yang baru saja menghantam isi kepalanya setelah berbicara dengan dokter muda itu.
Esok harinya, sesuai tradisi Jawa karena Kakek meninggal sebelum maghrib, hari itu langsung dihitung sebagai peringatan ketiga hari kematian. Syukuran sederhana digelar. Nenek hanya diam dan menghela napas dalam dari pagi sampai pagi lagi.
Malam itu, setelah semua tetangga yang rewang pulang, menyisakan kami berlima di rumah beserta Pakdhe Har, sepupu Ayah. Ayah memanggil kami semua untuk berkumpul di ruang tengah. Suasana yang semula hening, mendadak mencekam saat Ayah membuka suara dengan frontal.
"Saya kemarin dipanggil dokter, yang ternyata anak haram Bapak."
Ucapan Ayah membuat ruangan seolah membeku. Tatapan tajam langsung menyorot wajah Ayah.
"Ngomong opo…" Nenek hendak berteriak.
"Iya, Bu. Memang. Nyatanya Bapak memang bajingan," sahut Ayah memotong teriakan Nenek dengan nada dingin yang mengerikan.
"Mulutmu, Dik! Bapakmu baru dikubur hlo!" Pakdhe Har menukas, mencoba menahan emosi Ayah.
Ibuku yang sadar situasi ini tidak ramah untuk anak-anak, segera menarik tanganku dan kakak-kakakku. "Ayo, Ndhuk, Le, bubuk."
Sebelum pintu kamar ditutup rapat oleh Ibu, aku masih sempat mendengar kalimat terakhir Ayah yang meruntuhkan seluruh memori hangat tentang Kakek subuh tadi.
"Kukira aku dipanggil untuk diberi tahu keadaan Bapak, ternyata anak haram itu malah bertanya siapa aku, istri ibu, dan anak-anakku. Memang bajingan! Tanpa permisi langsung bilang kalau dia adalah anak yang disekolahkan Bapak sampai jadi dokter. Baru kuingat, ternyata sawah kita yang katanya dicuri Pak Aziz dulu, dicuri untuk anak haram itu! Biar... Biar saja Bapak mati, lebih baik begitu, biar Ibu tidak lagi hidup dengan pengkhianat dan pembual sepertinya!"
Di dalam kamar yang gelap, aku memeluk lututku. Di luar, suara tangis Nenek pecah—meratapi kenyataan bahwa rasa percayanya selama puluhan tahun kini ikut dibawa mati ke liang kubur. Aku menatap seragam sekolahku yang tercengang di atas gantungan. Baru tadi siang aku duduk di ruang kelas belajar tentang dunia, tanpa pernah tahu bahwa di luar sana, dunia keluargaku justru baru saja hancur berkeping-keping.
Mungkin Kamu Suka

Setiap Anak Istimewa

Aroma Sumbu yang Menyala

Di Balik Seragam Biru Putih

Ibu, Ayah Surgaku

Sang Penjaga Asa

Homevisit

Homevisit

Tinta Bak

Toilet Sekolah
